Pages

Selamat Datang di web Paket Umroh Plus dari Rabbani Tour, travel Umroh terpercaya Anda.

Info seputar Umroh



Friday, September 18, 2015

Shafa dan Marwah

Shafa dan Marwah - Bukit Safa dan Marwah (Bahasa Arab: الصفا Aş-Şafā ‎; المروة Al-Marwah) ialah dua bukit yang terletak di Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi tempat umat Islam melakukan Sa'i tujuh kali dalam ibadah haji dan umrah.
Sa'i adalah salah satu rukun haji dan umrah dan merupakan satu perbuatan untuk memperingati peristiwa Siti Hajar yang bolak-balik antara Bukit Safa dan Marwah mencari air untuk dirinya sendiri dan anaknya Nabi Ismail a.s. 

Pada zaman Nabi Muhammad s.a.w., beliau memulai dakwah secara terbuka kepada semua penduduk Mekkah dengan memanggil mereka berhimpun di Bukit Safa, sekitar tahun 613 M.


Bukit Safa dan Marwah juga disebut dalam Al-Quran. 

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqarah: 158)

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Pada masa jahiliah, setan-setan bernyanyi di seluruh malam di antara Shafa dan Marwa. Dan dulu di antara keduanya terdapat sejumlah berhala yang disembah oleh orang-orang musyrik. Ketika Islam datang, orang-orang muslim berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak akan melakukan sai antara Shafa dan Marwa karena kami melakukan hal itu pada masa jahiliah.’ Maka Allah menurunkan ayat 158 surat al-Baqarah.
 

Berikut beberapa do’a safa :
Doa Ketika Hendak Mendaki Bukit Safa Sebelum Mulai Sa’i :

Bismillahirirahmanir-rahim. Abda’u bima bada’allahu bihi wa rasuluh, innas-safa wal-marwata min sya’airillah, faman hajjal-baita awi’tamara fala junaha ‘alaihi ay yattawwafa bihima, wa man tatawwa’a khairan fa innallaha syakirun ‘alim.
Artinya:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku mulai dengan apa yang telah dimulai oleh Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Safa dan Marwah sebagian dari syiar-syiar (tanda kebesaran) Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau pun berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Penerima Kebaikan lagi Maha Mengetahui.”

Doa di atas Bukit Safa Ketika Menghadap Ka’bah
Allahu Akbar , Allahu Akbar , Allahu Akbar , wa lillahi-hamd. Allahu Akbar ‘ala ma hadana wal-hamdu lillahi ‘ala ma aulana. La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, lahul-mulku wa lahul-hamdu yuhyi wa yumitu biyadihil-khairu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir. La ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, anjaza wa’dah, wa nasara ‘abdah, wa hazanal-ahzaba wahdah, la ilaha illallahu wa la na’budu illaiyyahu mukhlisina lahud-dina wa lau karihal-kafirun.
Artinya:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Segala puji bagi Allah, Allah Maha Besar, atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kami, segala puji bagi Allah atas karunia yang telah dianugerahkan-Nya kepada kami, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekut bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, pada kekuasan-Nya lah segala kebaikan dan Dia berkuasa atas segala sesuatu Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu-Nya, yang telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan sendiri musuh-musuh-Nya. Tidak ada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan memurnikan (ikhlas) kepatuhan semata kepada-Nya walaupun orang-orang kafir membenci.”
Doa dalam setiap perjalanan antara Safa dengan Marwah atau sebaliknya:
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar. Allahummasta’milni bisunnati nabiyyika wa tawaffani ‘ala millatihi wa a’idni min mudillatil-fitan.
Artinya:
“Ya Allah, bimbinglah kami untuk beramal sesuai dengan sunnah Nabi-Mu dan matikanlah kami dalam keadaan Islam dan hindarkanlah kami dari fitnah/ujian yang menyesatkan”.
 Doa di Bukit Marwah Selesai Sai
Allahumma rabbana taqabbal minna wa ‘afina wa’fu ‘anna, wa ‘ala ta’atika wa syukrika a’inna, wa ‘ala gairika la takilna, wa ‘alal-imani wal-islamil-kamili jami’an tawaffana, wa anta radin ‘anna. Allahummarhamni bitarkil-ma’asi abadan ma abqaitani, warhamni an takallafa ma la ya’nini, warzuqni husnan-nazari fima yurdika ‘anni, ya arhamar-rahimin.
Artinya: "Ya Allah Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami, berilah perlindungan kepada kami, maafkanlah kesalahan kami dan berilah pertolongan kepada kami untuk taat dan bersyukur kepada-Mu. Janganlah Engkau jadikan kami bergantung selain kepada-Mu. Matikanlah kami dalam iman dan Islam secara sempurna dalam keridaan-Mu. Ya Allah rahmatilah kami sehingga mampu meninggalkan segala kejahatan selama hidup kami, dan rahmatillah kami sehingga tidak berbuat hal yang tidak berguna. Karuniakanlah kepada kami sikap pandang yang baik terhadap apa-apa yang membuat-Mu ridha terhadap kami. Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih."
Demikian informasi mengenai Shafa dan Marwah. Untuk informasi mengenai paket umroh di Rabbani Tour dapat mengunjungi website Rabbani Tour atau datang langsung ke kantor kami di Jalan Lengkong Kecil No.4 Bandung. 

Jeddah

Jeddah - Sejak lebih dari 2.500 tahun yang lalu, Jeddah adalah kota pelabuhan di jazirah arab. Jeddah berada di bawah kekuasaan dinasti Sa'ud pada tahun 1924, ketika Raja Ibnu Sa'ud mengambil alih Mekah, Madinah dan Jeddah. 
 
Kota Jeddah sudah berdiri sejak sebelum Islam, namun titik awal perkembangan pesat kota ini terjadi pada masa pemerihan Khalifah Usman Bin Affan, Khalifah ke-tiga dari jajaran Khulafaur Rasyidin.

Di tahun ke 26 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 647M. Khalifah Usman Bin Affan yang pertama kali menjadikan kota Jeddah sebagai kota pelabuhan laut internasional bagi jemaah haji yang yang datang dari seluruh penjuru dunia, menjadikan Jeddah sebagai gerbang utama bagi para calon haji untuk menuju ke Mekah dan Madinah karenanya kota Jeddah juga mendapatkan julukan sebagai “pintu gerbang dua tanah haram.

Jeddah berasal dari bahasa Arab “Jaddah” atau “Juddah” yang berarti nenek. Berdasarkan sumber lain mengatakan bahwa Jeddah berasal dari kata Jiddah dalam bahasa Arab yang berarti lepas pantai.

Secara geografis kota ini terletak di sebelah pantai timur Laut Merah pada 309 garis BT dan antara 21-289 garis LU, persisnya di daratan rendah pinggir Laut Merah, ±75 Km dari Kota Suci Mekah.

Kota Jeddah memiliki arti penting dan strategis bagi kemajuan dan perkembangan Kerajaan Arab Saudi sejak zaman dahulu. Pelabuhan Jeddah yang diberi nama “Pelabuhan Islam” (Jeddah Islamic Port) merupakan pintu utama segala kegiatan bisnis, baik dalam bentuk komoditas impor maupun komoditas ekspor. Khusus untuk pengangkutan jamaah haji, pemerintah Arab Saudi telah membangun pelabuhan laut dan pelabuhan udara.

Beberapa tempat yang sering dikunjungi jamaah haji Indonesia di kota Jeddah :
1. Masjid Terapung/ Masjid Ar-Rahmah. Masjid yang berada di pinggir laut Merah.
Laut merah disebutkan dalam Al-Qur’an dalam kisah Nabi Musa A.S. yang dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya kemudian atas izin Allah S.W.T beliau berhasil menyeberangi laut merah yang terbelah hingga selamat sampai ke Palestina bersama para pengikut setianya, sedangkan Fir’aun dan bala tentaranya tewas ditelah oleh laut merah.

2. Masjid Qishash. Tempat ini dipakai untuk pelaksanaan hukum Qishash atau hukum pancung bagi yang membunuh dan narkoba, dan Potong tangan bagi pencuri.

3. Makam Siti Hawa.
Jeddah seringkali diartikan sebagai ‘nenek’ dalam kaitannya dengan sejarah adanya Makam Siti Hawa yang berada di kawasan pemakaman kuno di pusat kota Jeddah. Makam ini dikenal sebagai Moqbara Umna Hawwa (makamnya bunda Hawa). Meskipun begitu banyak aturan yang harus dipatuhi saat berziarah ke makam ini, diantaranya adalah dilarang membawa kamera, video dan alat perekam lainnya dan wanita dilarang masuk ke areal pemakaman tersebut.

4. Balad / Corniche
Pertokoan serba ada dengan harga yang relatif murah.

5. Bicycle Square (Midan Addarajah) atau Bundaran sepeda merupakan tempat berdirinya monument yang berbentuk sepeda besar. Monumen sepeda merupakan salah satu dari beberapa monument yang berada di tengah kota Jeddah. Sehingga kota Jeddah sering disebut dengan kota Monumen.

\
6. Mekkah Gate atau Pintu Masuk Mekah. Gerbang masuk ke kota Mekah dengan simbul Al Quran diatas Gapura besar.
7. Laut Merah atau Pantai Laut merah. Laut yang membentang luas sebagai perbatasan antara Saudi Arabia dengan Negara Mesir dan Sudan, juga yang memisahkan antara Benua Asia dengan Benua Afrika.

Demikian informasi mengenai Kota Jeddah. Untuk informasi mengenai paket umroh di Rabbani Tour dapat mengunjungi website Rabbani Tour atau datang langsung ke kantor kami di Jalan Lengkong Kecil No.4 Bandung.

Jabal Rahmah

Jabal Rahmah - Jabal Rahmah adalah sebuah perbukitan batu, yang di puncaknya terdapat tugu berwarna putih memiliki nilai sejarah keislaman yang tinggi.

Gunung atau bukit ini terletak di Arafah, sekitar 25 kilometer sebelah tenggara Kota Makkah. Pada musim haji, lokasi pertemuan Nabi Adam dan Hawa ini senantiasa dikunjungi para jamaah haji. di lokasi ini pula (Arafah), menurut sejumlah kalangan, diturunkan- nya wahyu terakhir kepada Rasulullah SAW, yakni surah al-Maidah [5] ayat 3. 

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.”
Jabal Rahmah dinamakan Jabal Rahmah (gunung kasih sayang) karena di tempat inilah manusia pertama, yakni Adam dan Hawa, bertemu setelah ratusan tahun terpisah sejak dikeluarkan dari surga. Keduanya bertemu di Jabal Rahmah. 

Peristiwa ini tertulis dalam Alquran pada surah Al-Baqarah ayat 35 dan 38 serta Al-A’raf ayat 19-25 dan surah Thoha ayat 123. 
”Dan kami berfirman: ”Wahai Adam ! Tinggallah Engkau dan istrimu didalam surga, dan makanlah dengan niikmat (berbagai makanan) yang ada disana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon itu (khuldi, red), nanti kamu akan termasuk orang-orang yang zalim.” (QS 2:35) 
”Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan”. (QS 2: 36). 
”Turunlah kamu semua dari surga! Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS 2:38).
Dalam surah Al-A’raf, diusirnya Adam dan Hawa dari surga ini diabadikan pada ayat 24-25. 
”Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan satu sama lain. Bumi adalah tempat kediaman dan kesenangan sampai waktu yang telah ditentukan. Disana kamu hidup, disana kamu mati dan dari sana (pula) kamu akan dibangkitkan.” (QS 7:24-25).
Iblis berkata kepada Adam dan Hawa : 

”Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon khuldi (yakni pohon keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa? Lalu keduanya memakannya, hingga tampaklah aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya daun-daun (yang ada di) surga, dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia.” (QS Thaha (20) : 120-121)
Belum ada keterangan yang paling shahih tentang dimana mereka diturunkan. Namun, sebagian ulama sepakat, bahwa keduanya diturunkan secara terpisah dan kemudian bertemu di Jabal Rahmah, di Arafah setelah ratusan tahun.
Keyakinan bahwa bertemunya Adam dan Hawa di Jabal Rahmah di Arafah itu kemudian dikukuhkan dengan dibangunnya sebuah tugu oleh pemerintah Arab Saudi di tempat tersebut.
 

Al Imam Al Auza’ie meriwayatkan dari Hasan bin Athiyyah bahwa Adam dan Hawwa’ menangis ketika turun di bumi selama 60 tahun karena menyesali berbagai kenikmatan di surga yang tidak didapati lagi oleh keduanya di bumi ini. Keduanya juga menangis karena menyesali dosa yang dilakukan oleh keduanya. Demikian Ibnu Katsir meriwayatkannya dalam Kitab Al-Bidayah Wa Al-Nihayah, jilid 1 hlm 74. 

Demikian informasi mengenai Jabal Rahmah. Untuk informasi mengenai paket umroh di Rabbani Tour dapat mengunjungi website Rabbani Tour atau datang langsung ke kantor kami di Jalan Lengkong Kecil No.4 Bandung.

Madinah

Madinah - Kota Madinah pada masa pra-Islam, dikenal dengan nama Yatsrib. Yatsrib termasuk kota kuno yang dikenal oleh para sejarawan. Madinah juga dikenal dengan nama madîntâ yang berarti perlindungan. Di samping nama tersebut ada 11 nama lain yang disebutkan dalam Taurat, di antaranya: Thibah, Thabah, dan ’Adzra’. Penyebutan Yatsrib ditemukan dalam al-Qur'an surat al-Ahzab ayat 33, sedangkan penyebutan Madinah ditemukan dalam surat al-Munafiqun ayat 8.
Madinah terletak di daerah Hijaz, 300 mil di Utara Mekkah dan berada di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut. Madinah merupakan lembah subur yang terletak diantara dua pegunungan vulkanik (harratain), yang disebut dengan Harrah Waqim di Timur dan Wabrah di Barat. Di samping karena letaknya diantara dua pegunungan vulkanik, yang membuat Yatsrib menjadi daerah yang subur dan tanah pertanian yang potensial adalah adanya oasis-oasis yang mengalir dari Selatan ke Utara.

Mengingat kondisi geografisnya, kehidupan ekonomi Madinah bertumpu pada bidang pertanian. Bisnis di sektor pertanian ini membagi penduduk Madinah ke dalam 3 kelompok, tuan tanah, pemilik tanah kecil, dan buruh tani. Masyarakat Madinah merupakan masyarakat yang heterogen. Terdapat sebelas klan dan delapan di antaranya beragama Yahudi. Penduduknya terdiri dari tiga komunitas besar, yaitu kelompok Yahudi, Arab pagan, dan penganut Kristen. Di antara tiga komunitas tersebut, kelompok Yahudi adalah yang paling mendominasi. Merekalah yang memiliki lahan pertanian dan perkebunan serta mnguasai perdagangan. Di samping mereka juga memiliki profesi sebagai tukang emas dan pandai besi.

Madinah juga disebut sebagai kota suci karena terdapat Masjid Nabawi, yang merupakan pusat kekuasaan Islam. Madinah memancarkan karisma tersendiri, karena kota ini mempunyai masyarakat yang terbuka, toleran dan berperadaban. Mereka adalah orang-orang yang mengutamakan persaudaraan daripada konflik dan kekerasan. Sebab itu, pluralitas merupakan karakter yang menonjol dari kota Nabi ini.

Kota ini menjadi tempat bertemunya keragaman penganut agama-agama, khususnya Yahudi dan Islam. Madinah disebut-sebut sebagai salah satu representasi modernitas karena mampu menjadikan kemajemukan sebagai kekuatan untuk membangun sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi kesetaraan, persamaan, keadilan, dan perdamaian.

Selama di Madinah, Nabi Muhammad SAW membangun sebuah peradaban yang mengukuhkah nilai-nilai kemanusiaan universal, jalinan sosial yang dibangun penuh kehangatan membuat kota ini menjadi kota yang dijuluki banyak orang dengan kota yang bercahaya.

Di sini pula Nabi Muhammad SAW membangun beberapa masjid antara lain: Masjid Nabawi, Masjid Quba, yang terletak 5 km dari Masjid Nabawi, masjid ini menjadi monumen atau tonggak dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad, dan Masjid Qiblatain. Di kota ini Muhammad dan para pengikutnya mengalami beberapa peristiwa perang besar, antara lain Perang Badr, Perang Uhud, dan Perang Khandak.

Kota Madinah memiliki berbagai keistimewaan dan keutamaan sebagaimana diriwayatkan dalam berbagai hadist nabi Muhammad Saw. 

Nabi Muhammad Saw selalu mendoakan Madinah dan penduduknya dengan keberkahan, melalui sabdanya:
“Ya Allah bekahilah hasil buah-buahan kami, berkahilah Madinah kami, berkahilah takaran kami…” (HR.Muslim)
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan (menjadikan Tanah Haram atau Tanah Suci) Mekkah, dan berdoa untuknya, dan sekarang aku haramkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Mekkah dan aku berdoa untuknya di mud nya dan sha nya sebagaimana Ibrahim berdoa untuk Mekkah.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari Jabir ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya Ibrahim menjadikan Mekkah Tanah Suci dan aku menjadikan Madinah, Tanah Suci di antara tepinya. Tidak boleh ditebang kayu berdurinya dan tidak boleh diburu binatang buruannya.” (HR.Al-Bukhari).
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Tidak seorang pun yang berusaha meperdayakan (mengganggu) penduduk Madinah, melainkan ia akan hancur sebagaimana hancurnya garam dalam air.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya perumpamaan Madinah seperti Al-Kir (alat pembakar besi) yang menghilangkan sisi yang kotor dan membentuk sisi yang bagus.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya keimanan akan kembali ke Madinah seperti kembalinya seekor ular ke dalam lubangnya.”
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Siapa di antara kalian yang bisa meninggal di Madinah, hendaklah dia berusaha kearah itu, karena sesungguhnya aku akan memberikan syafaat bagi siapa yang meninggal di sana.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Di pintu-pintu masuk Madinah terdapat para malaikat, sehingga wabah tha’un dan Dajjal tidak bisa memasukinya.”
Malaikat-malaikat Allah ditugaskan untuk menjaga kota Madinah dari sejak Rasulullah Saw datang ke kota tersebut seperti disebutkan oleh Rasulullah Saw dalam beberapa hadist beliau.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa yang memakan 7 buah kurma dari daerah antara kedua buktinya yang berbatu-batu hitam (Madinah) pada waktu pagi, maka ia tidak akan mendapatkan bahaya dari racun hingga waktu petang.”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Rasulullah Saw berkata kepada seseorang dalam keadaan sakit:
“Dengan nama Allah, tanah bumi kami dan air ludah sebagian kami, semoga disembuhkan dengannya orang yang sakit di antara kami, dengan seizin tuhan kami..”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: 
“Madinah adalah Tanah Haram (Tanah Suci) antara ‘Aiir hingga Tsaur, maka barang siapa yang berbuat kesalahan di dalamnya, atau melindungi orang yang berbuat kesalahan, maka ia ditimpa laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya hari kiamat nanti tebusan atau pengganti..”
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Ya Allah, berikan keberkahan untuk kota Madinah dua kali lipat keberkahan yang Engkau berikan untuk kota Mekkah.”
Demikian informasi mengenai Kota Madinah yang disebutkan dalam Al-Quran dan diperkuat oleh hadist-hadist Nabi Muhammad SAW. Semoga kita diberi kesempatan untuk mengunjungi kota Madinah dan menjalankan ibadah Haji ataupun Umroh. Untuk informasi mengenai paket umroh di Rabbani Tour dapat mengunjungi website Rabbani Tour atau datang langsung ke kantor kami di Jalan Lengkong Kecil No.4 Bandung.

Mekkah

Mekkah - Mekkah adalah kota suci umat islam. Mekkah juga merupakan kota para nabi. Sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, Mekkah telah menjadi tujuan peribadatan. Mekkah terletak di sebuah lembah sempit diantara rangkaian pegunungan yang memiliki batu-batu vulkanik. Mekkah adalah sebuah kota kuno yang mulai dikenal dalam sejarah sejak Ismail bin Ibrahim.
Kota Mekkah dalam Alquran disebut dalam surah Ali Imran [3] ayat 96 dengan kata ‘Bakkah’. Julukan lainnya yang diberikan kepada Kota Makkah adalah Haramun Aamin atau kota suci yang aman (QS al-Qashash [28]:57). Ia juga diberi nama Kota Haram (suci) karena di sini terdapat tapal batas yang melingkari Makkah. Dengan pembatas ini, orang kafir tidak diperkenankan memasuki kawasan Tanah Haram ini.

Maekah juga disebut dengan nama al- Balad, negeri (QS al-Balad [90]: 1-2, Ibrahim [14] : 35), Ummu al-Qura, induk atau ibu negeri-negeri (QS al-An’am [6]: 92), al-Balad al-Amin, negara yang aman (QS at-Tin [95]: 4) dan al-Qaryah, negeri (QS an-Nahl [16]: 112), Bakkah yang artinya menyobek, membalas kekejaman, memisahkan orang kafir dan mukmin (QS Ali Imran [3]: 96), Waadin Ghairu Dzi Zar’in, yaitu lembah yang tidak mempunyai tanaman (QS Ibrahim [14] : 37).

Kota Mekkah disebut Ummu al-Qura karena ia merupakan kota atau negeri tertua di dunia. Namun, di antara nama-nama itu, yang paling terkenal adalah Makkah yang berarti “mendesak”, yakni mendesak orang- orang yang maksiat kepada Allah SWT untuk keluar dari kawasan itu.

Mekkah memiliki sejarah panjang, kota suci yang memiliki sebuah tempat bersejarah yaitu Rumah Tuhan (baitullah) ini dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, sebagai nenek moyang agama-agama samawi, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Kehadiran kota Mekkah tidak akan pernah terlepas oleh cerita tentang kehidupan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail. Kota Mekkah juga merupakan saksi atas terjadinya peristiwa Raja Abrahah dan Pasukan Gajahnya yang turut pula diabadikan di dalam Al-Qur’an surat al-Fiil ayat 1-5.

Selain itu, peristiwa yang turut pula terjadi di kota Mekkah ini yaitu kelahiran nabi Muhammad SAW. Sebagai khatamil anbiyaa atau pamungkas para nabi, Nabi Muhammad SAW hidup dan menghabiskan perjuangan dakwahnya di kota ini. Dari sini lah Islam mulai diperkenalkan sebagai agama dan kitab Al-Qur’an sebagai kitab pedomannya. Perjalanan dakwah nabi Muhammad SAW di Mekkah tidak selalu mulus, perlawanan dari pemeluk pagan Quraisy membuatnya harus melakukan suatu perubahan, yaitu pergi meninggalkan kota Mecca menuju kota Yatsrib (Madinah).

Kota Mekkah terlihat dari Angkasa. Photo by : @AntonAstrey
Mekkah adalah Tanah Haram, yang di dalamnya terdapat Masjidil Haram dan Baitullah atau Ka'bah. Sahih Muslim meriwayatkan bahwa pada hari pembukaan Mekkah, Rasulullah SAW bersabda :
”Sesungguhnya negeri Mekkah ini telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai Tanah Haram pada hari Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi. Mekkah adalah Tanah Haram yang diharamkan oleh Allah hingga Hari Kiamat. Tidak dibenarkan berperang di Mekkah bagi siapapun sebelum aku dan juga bagiku kecuali waktu tertentu (pada hari pembukaan kota Mekkah pada tahun ke-8 Hijriyah). Tidak boleh memotong pohon, tidak boleh menangkap binatang buruan, tidak boleh mengambil barang yang tercecer kecuali untuk diumumkan kepada umum, dan tidak boleh memangkas rumput di Mekkah. Kata Al Abbas, kecuali izkhir. Jawab Rasulullah, kecuali izkhir.” (Izkhir adalah sejenis tumbuhan berbau harum dan dapat digunakan sebagai kayu bakar dan atap rumah).
Masjidil Haram mencakup empat pengertian. Pertama, Ka’bah, seperti disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 144 dan ayat 149, yang artinya :
” …maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram…”Dan dari mana saja kamu datang, maka hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram.”
Kedua dalam pengertian Ka’bah, Masjid dan sekitarnya. Pengertian ini banyak diikuti oleh para ulama. 
“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda- tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha melihat” (QS Al-Isra’ :17).
Pengertian ketiga, adalah seluruh Mekkah. Firman Allah dalam Surat al-Fath :28 : 
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah dalam keadaan aman dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.”
Menurut qotadah yang dimaksud dengan Masjidil Haram adalah Makkah itu sendiri. 

Pengertian keempat adalah seluruh daerah tanah suci. Surat At-Taubat (9:28): 

“ Hai orang-orang yang beriman orang- orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini, maka Allah nanti akan memberi kekayaan kepadamu karena karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana.”
Mekkah berada di tanah Hijaz, dilingkungi dataran tinggi dan pegunungan. Sedangkan dataran rendah adalah Batha’ atau perkampungan Ma’la, berada di bagian timur Masjidil Haram. Rasulullah SAW masuk melalui daerah ini. Di bagian barat daya adalah Misfalah dan Syubaikah. Ketiganya merupakan pintu masuk kawasan Mekkah.
Kota Mekkah dilihat dari Jabal Nur
Di dalam kawasan tanah suci, Allah telah menjadikannya sebagai tempat kembali (Matsabah), tempat bertemunya seluruh manusia dan sebagai tempat yang aman. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil Haram yang telah kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ atau di padang pasir, dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya kami rasakan kepadanya siksa yang pedih” (QS al-Hajj :22-25).
Ka’bah dan Masjidil Haram di Mekkah Al Mukarramah telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai rumah pertama manusia di bumi dan menjadi kiblat bagi umat Islam sedunia. Sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an dan diperkuat oleh hadist-hadist Nabi Muhammad SAW. Al Qur’an sendiri menyebut 15 kali tentang Masjidil Haram, di antaranya dalam Surat Al Baqarah ayat 144, Surat At Taubah ayat 28, Surat Al Isyraa ayat 1, Surat Al Hajj ayat 25 dan 37, dan Surat Al Fath ayat 27.
“Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Maka palingkanlah mukamu kea rah Masjidil Haram dan di manapun kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya.dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang dberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya, dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS Al Baqarah: 144).
Demikian informasi mengenai Kota Mekkah yang disebutkan dalam Al-Quran dan diperkuat oleh hadist-hadist Nabi Muhammad SAW. Semoga kita diberi kesempatan untuk mengunjungi kota Mekkah dan menjalankan ibadah Haji ataupun Umroh. Untuk informasi mengenai paket umroh di Rabbani Tour dapat mengunjungi website Rabbani Tour atau datang langsung ke kantor kami di Jalan Lengkong Kecil No.4 Bandung.
Thursday, September 17, 2015

Masjid Bir Ali

Masjid Bir Ali - Masjid Bir Ali adalah tempat miqat (miqat zamani) bagi penduduk Madinah yang akan berumrah atau berhaji sebagaimana dicontohkan Nabi. Jadi, hanya jamaah haji gelombang pertama atau jamaah umrah yang mendahulukan Madinah yang dapat merasakannya. Jaraknya kurang dari 15 menit perjalanan dari Madinah. 

Di Masjid Bir Ali, sebagaimana disyariatkan, ada tiga hal yang harus diamalkan saat mengambil miqat , termasuk miqat di Bir Ali ini, yaitu mandi sunat ihram dan memakai pakaian ihram; salat sunat ihram dua rakaat; dan berniat ihram serta ber-talbiyah . 
Masjid Bir Ali dikenal dengan banyak nama. Disebut Bir Ali (bir berarti kata jamak untuk sumur) karena pada zaman dahulu Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra menggali banyak sumur di tempat ini. Sekarang, bekas sumur-sumur buatan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak tampak lagi. 

Masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Syajarah (yang berarti pohon) karena sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, masjid yang cantik ini dibangun di tempat mana Nabi Muhammad SAW pernah berteduh di bawah sebuah pohon (sejenis akasia). Kemudian, beberapa orang juga menyebut masjid ini dengan sebutan Masjid Dzul Hulaifah, karena letaknya berada di Distrik Dzul Hulaifah.  
 
Masjid Bir Ali berada di tengah-tengah tembok yang didesain layaknya benteng pertahanan. Masuk dari bagian depan kita akan melewati sebuah gerbang yang jalannya tembus ke tempat pakir belakang. Sepasang menara berbentuk kubah masjid berada di atasnya. Kemudian di depannya tampak sebuah tempat imam dengan ukiran gaya timur tengah dicat dengan warna putih. Tiba di dalam areal masjid kita akan melihat lorong-lorong di dalam masjid dengan tiang-tiang yang membentuk kubah bila lihat ke langit-langitnya.

Menurut sejarah, Masjid Bir Ali mengalami beberapa kali renovasi. Dimulai pada masa pemerintahan Gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz (87-93 Hijriah), kemudian Zaini Zainuddin Al Istidar pada 861 Hijriah (1456 Masehi), lalu pada zaman Dinasti Usmaniah dari Turki dengan dibantu seorang muslim dari India pada 1090 Hijriyah (1679 Masehi), hingga terakhir Raja Abdul Aziz yang memerintah Kerajaan Arab Saudi dari 1981-2005 M.

Keseluruhan masjid ini memiliki luas sekitar 9.000 meter persegi yang terdiri atas 26.000 meter persegi bangunan masjid, dan 34.000 taman, lapangan parkir, dan paviliun.
Masjid Bir Ali tampak sangat bersih. Begitu pula dengan kamar mandinya. Kebanyakan umat Muslim yang datang mengambil kesempatan untuk mandi, agar bersih saat berihram.


Ingin melaksanakan Miqat di Masjid Bir-Ali? Masjid penuh keanggunan di Kota Madinah. Rabbani Tour sebagai biro perjalanan umroh akan siap mengantar Anda. 

Demikian informasi mengenai Masjid Bir Ali. Semoga dapat bermanfaat. Untuk informasi mengenai paket umroh di Rabbani Tour dapat mengunjungi website Rabbani Tour atau datang langsung ke kantor kami di Jalan Lengkong Kecil No.4 Bandung.

Masjid Qiblatain

Masjid Qiblatain - Masjid Qiblatain adalah Masjid di mana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu untuk mengubah arah shalat (kiblat) dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. 


Masjid Qiblatain ini terletak di atas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah. Diriwayatkan, pada pertengahan 624 M atau 2 H, turun perintah dalam Surat al-Baqarah ayat 144 yang berbunyi:
"Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah masjid al haram. Dan dimana saja kau berada , maka palingkanlah mukamu ke arahnya..." 
Sewaktu Nabi hendak mengerjakan shalat subuh di Masjid Quba tiba-tiba turunlah ayat yang memerintahkan untuk mengalihkan kiblat shalat ke arah masjidil Haram. 

Riwayat kedua menyebutkan perintah untuk mengalihkan kiblat turun sewaktu Nabi menjadi imam shalat dhuhur di kampung Bani Salimah. Setelah Nabi selesai rakaat kedua wahyu turun untuk memerintahkan mengubah arah qiblat. Kemudian nabi muhammad SAW beserta jemaahnya segera menghentikan shalat lalu berputar 180 derajat menghadap ke arah kiblat baru diikuti para jemaahnya. 

Pada awalnya, kiblat salat untuk semua nabi adalah Baitullah di Mekah yang dibangun pada masa Nabi Adam AS, seperti yang tercantum dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 96:  
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.
Masjid Qiblatain mula-mula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Masjid ini terletak sekitar 7 kilometer dari Masjid Nabawi di Madinah. 

Masjid Qiblatain ini beberapa kali mengalami renovasi diantara orang yang dikenal membangun dan memperbaharuinya As Syuja`i Syahin Al Jamaly pada tahun 893 H/1543 M dan kemudian diperbaharui pula oleh Sultan Sulaiman pada 950 H. Walaupun beberapa kali diperbaharui tetapi tetap dipertahankan ciri khas yaitu kedua mihrabnya. 

Selain itu sebuah sumur milik seorang Yahudi bernama RAumah ditebus oleh Utsman bin Affan. Sahabat yang dikenal dengan sifatnya yang pemalu ini mewakafkan sumur seharga 20 ribu dirham. Sumur itu bisa digunakan selain untuk bersuci dan air minum, juga untuk mengairi di taman-taman disekeliling masjid sampai sekarang.

Demikian informasi mengenai Masjid Qiblatain. Semoga dapat bermanfaat. Untuk informasi mengenai paket umroh di Rabbani Tour dapat mengunjungi website Rabbani Tour atau datang langsung ke kantor kami di Jalan Lengkong Kecil No.4 Bandung.